Hubungan Minat Siswa pada Pelajaran Matematika

HUBUNGAN MINAT SISWA PADA PELAJARAN MATEMATIKA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SD


Sri Mulyani
SDN Sumberagung 03 Jl Raya Sumberagung kec. Sumbermanjing – Malang


Abstraksi : Penulisan artikel ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi
belajar matematika serta meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran
matematika.Cara meningkatkan prestasi belajar dan meningkatkan minat siswa pada pelajaran matematika dengan mengatasi faktor yang menjadi pengaruh pada prestasi belajar.

Kata Kunci : minat, Prestasi belajar, pelajaran matematika,


Proses pendidikan secara formal adalah mengajar, sedangkan inti dari proses pengajaran itu sendiri adalah siswa belajar. Analisa proses belajar mengajar pada hakekatnya bertujuan pada persoalan bagaimana guru memberikan kemungkinan bagi siswa agar terjadi proses belajar mengajar yang efektif atau dapat mencapai hasil sesuai dengan tujuan.

Pada mata pelajaran matematika memerlukan pemahaman dan latihan-latihan serta sifat pelajaran yang berhubungan dan berkesinambungan.apabila siswa tidak berminat atau tidak menyukai pada pelajaran tersebut maka siswa akan sulit untuk menerima arahan dan penjelasan guru dalam proses belajar mengajar. Ada kecenderungan jika siswa tidak menyukai pada pelajaran matematika maka siswa tersebut akan malas hadir pada jam pelajaran, dan itu akan menjadii hambatan untuk mengikuti palajaran tersebut pada hari jam berikutnya. Jika frekwensi ketidak hadiran semakin tinggi / banyak secara otomatis siswa akan sulit mengikuti pelajaran berikutnya dan selanjutnya akan tertinggal dengan teman-temannya.
Kemauan siswa yang kurang terhadap pelajaran mengakibatkan turunnya prestasi belajar, terutama pada mata pelajaran matematika sehingga timbul kesan bahwa mata pelajaran matematika sulit.

PROBLEMA MENINGKATKAN MINAT SISWA UNTUK MENCAPAI PRESTASI BELAJAR
Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan . Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel ( 1996 : 24 ) minat adalah “kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertyentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.” Selanjutnya Slameto (1995 : 57) mengemukakan bahwa minat itu adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan-kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.”
Kemudian Sardiman ( 1992 : 76 ) mengemukakan minat adalah “suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.”
Dari batasan minat di atas, jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan, bahkan pelajaran yang kurang diminati siswa akan lebih sulit dipelajari dan disimpan dalam otak,


Prestasi Belajar
Sebelum membicarakan pengertian prestasi belajar, terlebih dahuju akan dikemukakan apa yang dimaksud dengan belajar. Para pakar pendidikan mengemukakan pengertian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun demikian selalu mengacu pada prinsip yang sama yaitu setiap orang yang melakukan proses belajar akan mengalami suatu perubahan dalam dirinya. Menurut Slameto ( 1995 : 2) belajar adalah “ suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” Selanjutnya Winkel ( 1996 : 53 ) belajar adalah “ suatu aktifitas mental / psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relative constant.” Kemudian Hamalik (1983 : 28) mendefinisakan belajar adalah “ suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam caara-cara bertingkah laku.” Pengertian belajar yang cukup komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler ( 1986 : 1 ) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitudes. Kemampuan (competencies), ketrampilan (skills), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses sepanjang hayat.
Setelah kita mengetahui batasan pengertian belajar kita akan mencoba memahami apa yang dimaksud dengan prestasi belajar. Ada banyak definisi prestasi belajar antara lain pendapat dari Sutartimah Tirtonegoro (1983 : 43) menyimpulkan “ Prestasi belajar adalah hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk angka, huruf atau simbul yang dapat mencerminkan hasil yang dicapai oleh setiap anak dala periode tertentu” juga Suhertin Citro Broto ( 1989 : 9) menarik kesimpulan sebagai berikut “ Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai setelah mengadakan didikan atau latihan”.
Dari batasan di atas tampak bahwa prestasi belajar itu seharusnya lebih menuju pada perolehan hasil belajar yang bisa diperoleh setelah peserta didik mengikuti proses kegiatan belajar mengajar (PBM).Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses balajar mengajar berlangsung.
Dengan mengadakan pengukuran atau penilaian terhadap proses belajar mengajar maka akan dapat diketahui dan diklasifikasikan apakah anak didik termasuk pandai, sedang, atau kurang. kriteria semacam itu biasanya secara jalas bias dibaca melalui simbul-simbul, baik angka, huruf maupun angka yang terdapat pada raport.
Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktifitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajr adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu.
Sekalipun terdapat batasan tentang prestasi belajar namun secara umum pendapat Tim Dosen IKIP Malang ( 1996 :120 ) terdapat tiga aspek mendasardalam prestasi yaitu : aspek kognitif, meliputi kemampuan mengetahui; memakai; mengungkapkan; menganalisis serta kemampuan mengevaluasi. Sedangkan aspek afektif meliputi kemampuan menerima; menghargai; dan kemampuan membentuk dan berpribadi. Sementara aspek psikomotorik lebih berkaitan dengan kemampuan menyangkut penguasaan tubuhdan gerak. Sedangkan Nana Sudjana ( 1989 : 45 ) mengkatagorikan hasil belajar menjadi tiga yaitu (a) Ketrampilan dan kebiasaan (b) pengetahuan dan ketrampilan (c) sikap dan cita-cita.

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI BELAJAR
Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimanayang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain ; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya.

Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor inter yaitu kecerdasan/intelegensi, bakat, minat dan motovasi.

Kecerdasan/intelegensi
Kecerdasan adalah kemampuan belajar desertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalanya perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar.
Kecerdasan merupakan salah satu aspek yang penting, dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau di atas normal maka secara potensi ia dapat mencapai prestasi yang tinggi.
tTngkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Jadi semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses, sebaliknya semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam usaha belajar.

Bakat
Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sabagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986 : 28 ) bahwa “bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenaim kesanggupan-kesanggupan tertentu.” Bakat merupakan potensi atau kemampuan untuk dikembangkan melalui balajar untuk menjadi kecakapan yang nyata, bakat berarti sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.
Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajar ketrampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik, apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut.

Minat
Pada pemaparan di atas tadi sudah dijelaskan tentng pengertian minat .Jadi minat yang besar akan mempenguruhi terhadap belajar dan kegiatan, bahkan minat siswa terhadap pelajaran yang menarik akan lebih mudah dipelajari dan minat akan menambah kegiatan belajar. Untuk menumbuhkan mianat siswa pada belajar guru harus bisa menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.

Motivasi
Motovasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motovasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar seorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi belajar. Motivasi merupakan daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu
Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedkan menjadi dua macam yaitu (a) motivasi intrinsik dan (b) motivasi ekstrisik. Motivasi intrinsic dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi ekstrisik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan belajar.
Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri dan belajar secara efektif.



Faktor ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitar dan sebagainya.
Pengaruh lingkungan biasanya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu.

Keadaan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia. Adanya rasa aman dalam keluarga penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorongdari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Hasbullah ( 1994 : 46 ) mengatakan : “Keluatga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembaga-lembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatka hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehinggga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar.

Keadaan sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukanh keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubunganantara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajar.

Lingkungan Masyarakat
Di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dan proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembanganpribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-harianak akan lebih banyak bergaul dalam lingkungan dimana anakm itu berada. Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak yang-anak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebalikanya bila anak-anak disekitarnya merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran tiada menentu anakpun dapat terpengaruh pula.
Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan dapat membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaan lingkungannnya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal disuatu lingkunugan temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinnya, sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya.

Kesimpulan
Untuk meningkatkan prestasi belajar pada siswa diharapkan ada kerja sama antar keluarga, sekolah dan lingkungan. Sebagai guru harus bisa mengatasi penyebab atau faktor yang menjadi naik atau turunnya prestasi belajar. Baik itu faktor intern atau faktor ekstern. Dan guru harus bisa menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan sehingga siswa akan merasa senang dan menyukai pada pelajaran khususnya pelajaran matematika.


DAFTAR PUSTAKA
IKIP Malang (1996) . Karya Tulis Ilmiah. Malang: IKIP Malang
Nana Sudjana. (1989). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Sutartinah. (1983). Anak Super Normal dan Program Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara
Suhertin CB. (1987) Teknik Belajar yang efektif. Jakarta : Bharata
Totok S. (1988). Bimbingan Belajar di Sekolah Menengah. Semarang: Setya Wacana
WS. Winkel (1996) . Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT Gramedia
Winaputra, udin, (2007) Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Universitas terbuka.

0 komentar: (+add yours?)

Poskan Komentar